Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah jeritan bumi yang terluka, tangisan sunyi dari tanah yang dulu subur kini tercemar. Ia bicara tentang petani—mereka yang dulu menabur harap di ladang, kini menuai gelisah di antara panen yang tak pasti dan udara yang tak lagi bersahabat.
"Tanah yang Menangis" mengajak kita melihat lebih dalam: bahwa di balik kemajuan dan panen melimpah, ada harga yang mungkin terlalu mahal untuk dibayar—kesehatan generasi, kesuburan tanah, dan warisan bumi yang lestari.
Mari dengarkan tangis itu. Mari renungkan:
Apakah kita ingin mewariskan ladang penuh kehidupan, atau ladang penuh racun?
Apakah kita akan terus diam, atau mulai memeluk tanah dengan kasih?
Sekarang adalah waktunya. Sebelum semuanya terlambat.
Penguatan Literasi dan Numerasi: Menjadi Jantung Pembelajaran
yang Bermakna
Dalam dunia pendidikan saat ini, keberhasilan peserta didik
tidak semata ditentukan oleh kecakapan akademik, tetapi juga oleh kemampuan
mereka dalam membaca, menulis, bernalar, dan menghitung. Inilah esensi dari
literasi dan numerasi—dua fondasi utama yang menjadi nafas dalam proses
pembelajaran abad ke-21.
Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi
kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi dalam
berbagai konteks.
Sementara itu, numerasi bukan sekadar keterampilan berhitung,
melainkan kapasitas berpikir logis dan memecahkan masalah berbasis data dalam
kehidupan sehari-hari.
Kenyataannya, masih banyak tantangan yang harus dihadapi.
Minat baca peserta didik yang rendah, kurangnya sarana dan prasarana di
sekolah, hingga ketidaksiapan guru dalam merancang pembelajaran yang menyatu
dengan literasi dan numerasi menjadi penghambat utama. Namun demikian,
tantangan ini tidak bisa menjadi alasan stagnasi. Sebaliknya, harus dijawab
dengan strategi pembelajaran yang aktif, kreatif, dan kolaboratif.
Penguatan literasi dan numerasi dapat dilakukan melalui
berbagai pendekatan dan model pembelajaran. Salah satunya adalah model Project-Based
Learning, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat aktif dalam
proyek yang menggabungkan unsur literasi seperti membaca sumber informasi dan
menulis laporan, serta unsur numerasi seperti mengumpulkan dan menganalisis
data statistik. Contohnya, proyek membuat laporan tentang kebersihan lingkungan
sekolah yang memerlukan wawancara, survei, analisis grafik, dan penyusunan
narasi laporan.
Model lain yang tak kalah efektif adalah Cooperative Learning,
yaitu pembelajaran berbasis kelompok kecil yang menekankan kolaborasi dan
komunikasi. Dalam model ini, siswa dapat berdiskusi memecahkan soal cerita
matematika, menulis hasil analisis, dan mempresentasikan temuannya kepada
kelas. Strategi ini bukan hanya membangun keterampilan akademik, tetapi juga
membentuk karakter yang kolaboratif dan komunikatif.
Kemampuan literasi dan numerasi juga dapat dikembangkan
melalui Contextual Teaching and Learning (CTL). Dengan menghubungkan materi
ajar dengan kehidupan nyata, siswa lebih mudah memahami dan mengaplikasikan
pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat mempelajari konsep
diskon dalam matematika, siswa dapat diajak untuk membuat laporan belanja
sederhana, menghitung diskon dan pajak, serta menyimpulkan hasilnya secara
tertulis.
Dalam hal asesmen, penguatan literasi dan numerasi tidak cukup
hanya dengan tes pilihan ganda. Perlu asesmen yang lebih holistik seperti
portofolio, proyek, jurnal reflektif, hingga penilaian kinerja. Dengan cara
ini, guru dapat melihat proses berpikir siswa, bukan hanya hasil akhirnya.
Implementasi dalam Pembelajaran dan Asesmen
Penguatan literasi dan numerasi seyogianya tidak dibatasi
hanya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Berikut adalah
contoh implementasi dalam beberapa mata pelajaran:
Bahasa
Indonesia
Siswa diminta menulis esai
tentang topik sosial, lalu melakukan presentasi di depan kelas. Asesmennya
mencakup kemampuan menyusun gagasan, penggunaan bahasa, dan penyampaian lisan.
Matematika
Siswa menyelesaikan soal cerita
yang berhubungan dengan kehidupan nyata, seperti menghitung pengeluaran rumah
tangga. Mereka juga membuat grafik dari data yang dikumpulkan dan menjelaskan
temuannya secara tertulis.
IPA
Dalam proyek eksperimen sains,
siswa mencatat pengamatan dalam jurnal, menghitung rata-rata hasil percobaan,
dan menulis laporan ilmiah lengkap dengan interpretasi data.
IPS
Siswa menganalisis data
kependudukan atau hasil survei sederhana, lalu membuat laporan yang berisi
grafik, tabel, dan narasi interpretatif.
TIK
Siswa mencari informasi di
internet tentang suatu topik, menyaring informasi yang valid, dan menyajikannya
dalam bentuk infografik dengan data numerik yang relevan.
Penguatan literasi dan numerasi dalam pembelajaran dan asesmen
bukanlah sekadar kebijakan, melainkan kebutuhan mendasar untuk mencetak
generasi pembelajar yang siap menghadapi dunia yang penuh tantangan. Dengan
strategi yang tepat, dukungan guru dan kolaborasi semua pihak, kita dapat
mewujudkan pendidikan yang benar-benar memberdayakan
Menyalakan
Perubahan: Program Pendampingan Sekolah Berbasis Data 2025
Oleh:
Viktor Rega
Bayangkan
Anda seorang pengawas sekolah yang bertanggung jawab membina 11 sekolah, mulai
dari SMP hingga TKK/PAUD, dengan tantangan beragam: literasi yang tersendat,
iklim keamanan yang goyah, hingga anggaran yang belum optimal. Tumpukan data
dari Rapor Pendidikan 2025 menanti untuk diolah, tapi waktu terbatas, dan
harapan besar dari stakeholders menekan. Bagaimana caranya menyusun program
pendampingan yang tidak hanya efektif, tetapi juga cepat dan tepat sasaran?
Artikel ini akan mengupas rahasia meramu program pendampingan berbasis data
yang bisa mengubah wajah sekolah Anda di tahun 2025!
Rapor
Pendidikan 2025: Peta Harta Karun Pendidikan
Rapor
Pendidikan 2025 bukan sekadar laporan tahunan; ia adalah peta harta karun yang
mengungkap kekuatan dan kelemahan sekolah. Dari 11 sekolah binaan di wilayah
Kabupaten Ngada,Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari 6 SMP dan 5 TKK/PAUD—data ini menyoroti isu krusial seperti rendahnya
skor numerasi (misalnya, SMPN 2 Riung Lindi turun drastis -32.07%), maraknya
hukuman fisik (SMPN Satap 3 Wolomeze mencatat 46.15%), hingga minimnya sarana
prasarana di TKK (skor 2 di banyak sekolah). Namun, di balik tantangan, ada
peluang emas: literasi SMPN 2 Riung Taenterong melonjak +25.45%, dan refleksi
guru di TKK Negeri St. Maria Tarawali mencapai skor 94.35.
Prioritaskan
kebutuhan “tinggi” seperti numerasi, iklim keamanan, dan sarana prasarana, lalu
tangani isu Kunci suksesnya? “sedang” seperti literasi dan partisipasi
warga sekolah. Dengan pendekatan ini, Anda bisa fokus pada masalah paling
mendesak tanpa kehilangan arah.
Langkah
1: Petakan Prioritas dengan Presisi
Menyusun
program pendampingan dimulai dari mengenali kebutuhan sekolah secara mendalam.
Bayangkan Anda sedang mendiagnosis pasien: tanpa pemeriksaan yang tepat,
pengobatan bisa salah sasaran. Rapor Pendidikan 2025 memberikan data akurat
untuk mendiagnosis “penyakit” sekolah. Misalnya:
SMPN
Satap 3 Wolomeze:
Numerasi (skor 57.03) dan iklim keamanan (hukuman fisik 46.15%) jadi
prioritas tinggi. Literasi (64.29%) masuk prioritas sedang.
TKK
Negeri St. Fransiskus Tarawaja:
Sarana prasarana (skor 2) dan iklim keamanan (68.46, turun -13.42) butuh
perhatian mendesak, sementara perencanaan pembelajaran bisa ditangani
bertahap.
Tabel
prioritas yang ringkas—dengan kolom nama sekolah, prioritas tinggi, prioritas
sedang, dan dasar data—adalah alat ajaib untuk memetakan kebutuhan. Dengan
tabel ini, Anda bisa melihat gambaran besar tanpa tersesat dalam lautan angka.
Langkah
2: Jenguk Jiwa Kepala Sekolah
Sekolah
adalah cerminan kepala sekolahnya. Tanpa komitmen dan kapasitas mereka, program
sehebat apa pun bisa mandek. Di sinilah pengawas berperan sebagai “pelatih”
yang memahami jiwa timnya. Berdasarkan wawancara, kepala sekolah dibagi ke
dalam dua kategori kesadaran refleksi: Berkembang (tahu masalah tapi
rencana masih kabur) dan Berdaya (reflektif dengan solusi konkret).
Contohnya,
kepala sekolah SMPN Satap 3 Wolomeze “Berdaya” karena mengakui rendahnya
numerasi dan merencanakan pelatihan guru, sesuai data rapor (numerasi 53.57%).
Sebaliknya, SMPN 2 Riung Lindi masih “Berkembang” karena hanya menyebut
penurunan literasi (-24.45%) tanpa solusi jelas. Kapasitas memimpin juga
bervariasi: SMPN 2 Soa “Sedang” dengan perencanaan numerasi yang solid
(84.44%), sementara TKK Negeri Lindi “Rendah” karena minim respons terhadap
skor sarana (2).
Tips
praktis?
Gunakan tiga pertanyaan pemantik:
Apa
kekuatan dan kelemahan sekolah Anda?
Bagaimana
Anda mengatasi kelemahan?
Apa
rencana untuk mempertahankan kekuatan?
Jawaban
mereka adalah cermin untuk merancang pendampingan yang pas.
Langkah
3: Rancang Pendampingan yang Hidup
Pendampingan
bukan sekadar kunjungan formal; ia adalah proses membangun perubahan nyata.
Program pendampingan 2025 dirancang spesifik untuk jenjang SMP (fokus literasi,
numerasi, karakter) dan TKK/PAUD (pembelajaran anak usia dini, iklim keamanan).
Berikut contohnya:
SMPN
Satap 3 Wolomeze:
Coaching untuk workshop numerasi bilangan (Jan-Mar) dan training disiplin
positif untuk kurangi hukuman fisik.
TKK
St. Fransiskus Tarawaja:
Facilitating koordinasi BOS untuk sanitasi dan training disiplin positif,
menangani skor sarana (2) yang kritis.
Durasi
pendampingan diatur strategis: prioritas tinggi ditangani intensif di kuartal
pertama (2 kali kunjungan), sementara prioritas sedang di kuartal berikutnya (1
kali). Total, setiap sekolah mendapat minimal tiga sesi pendampingan sepanjang
2025.
Langkah
4: Pilih Strategi dan Metode yang Tepat
Setiap
kepala sekolah punya “DNA” berbeda. Kombinasi kesadaran dan kapasitas mereka
menentukan strategi pendampingan. Misalnya:
Pemicu
Perubahan untuk SMPN
2 Riung Lindi (Berkembang-Rendah): Consulting untuk bangun perencanaan
berbasis data, diikuti training literasi dan numerasi.
Penguatan
Kapasitas untuk SMPN
2 Soa (Berdaya-Sedang): Coaching untuk optimalkan numerasi dan
facilitating forum keamanan.
Metode
pendampingan juga bervariasi: coaching untuk implementasi program, training
untuk keterampilan teknis, consulting untuk perencanaan awal, dan facilitating
untuk kolaborasi eksternal. Dengan pendekatan ini, pendampingan terasa hidup
dan relevan.
Langkah
5: Jadwalkan dengan Cerdas
Waktu
adalah emas. Jadwal pendampingan 2025 dirancang untuk memaksimalkan dampak:
Januari-Maret: Fokus prioritas tinggi seperti
numerasi (SMP) dan sarana (TKK). Contoh: Coaching numerasi di SMPN Satap 3
Wolomeze dan facilitating BOS di TKK St. Fransiskus.
April-Juni: Tangani prioritas sedang seperti
literasi dan partisipasi warga.
Juli-Desember: Evaluasi dan penguatan program.
Jadwal
ini memastikan setiap sekolah mendapat perhatian cukup tanpa membebani
pengawas.
Langkah
6: Ukur Keberhasilan dengan Jelas
Tanpa
indikator, pendampingan seperti berlayar tanpa kompas. Target terukur disusun
untuk setiap sekolah, misalnya:
TKK
Buana Pore: Skor
kemampuan fondasi naik 5%, partisipasi orang tua naik 5%.
Selain
itu, 50% kepala sekolah diharapkan naik ke kategori “Berdaya” dan “Tinggi”
dalam kesadaran dan kapasitas. Laporan bulanan (ringkasan kegiatan, temuan,
rekomendasi) dan tahunan (capaian indikator, saran 2026) jadi alat pantau yang
sederhana namun kuat.
Mengapa
Ini Penting?
Program
pendampingan berbasis Rapor Pendidikan 2025 bukan hanya soal memenuhi tugas
pengawas, tetapi tentang menciptakan perubahan nyata. Bayangkan siswa SMPN 2
Soa yang kini lebih mahir berhitung, atau anak-anak TKK St. Maria Tarawali yang
belajar di lingkungan aman dan menyenangkan. Dengan pendekatan yang
terstruktur—dari pemetaan prioritas hingga pengukuran keberhasilan—pengawas
bisa menjadi katalis perubahan tanpa kewalahan.
Mulai
Sekarang, Ubah Besok!
Menyusun
program pendampingan sekolah tidak harus rumit. Dengan Rapor Pendidikan 2025
sebagai panduan, pengawas bisa bekerja cepat dan efektif: petakan prioritas,
kenali kepala sekolah, rancang pendampingan yang hidup, dan ukur dampaknya. Di
Bajawa, 11 sekolah menanti transformasi—dari numerasi yang lebih kuat hingga
iklim sekolah yang lebih aman. Ambil langkah pertama hari ini, dan saksikan
perubahan besar di 2025!
Peraturan
Dirjen GTK No. 4831/2023 tentang Peran Pengawas Sekolah.
Rapor
Pendidikan 2025, Data Sekolah Binaan Bajawa
Bagi bpk/ibu yang ingin mendownload dokumen terkait program pendampingan pengawas sekolah (Contoh program pendampingan, Contoh format wawancara kepala sekolah, prompt penyusunan program pendampingan berdasarkan analisis rapor pendidikan 2025) silahkan unduh tautan berikut:
Dalam perencanaan pendidikan,Rencana Kerja Tahunan (RKT)danAnggaran Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (ARKAS)merupakan dua komponen penting untuk memastikan sekolah dapat menjalankan programnya secara efektif dan transparan. Berikut adalah panduan menyusun RKT dan ARKAS :
Input rencana kegiatan dan anggaran sesuai panduan yang ada.
Verifikasi dan Submit
Periksa kembali kelengkapan data sebelum mengajukan.
Pastikan dokumen pendukung seperti RKT dan RKAS sudah sesuai.
Penyusunan RKT dan ARKAS membutuhkan ketelitian dan koordinasi antara kepala sekolah, bendahara, dan komite. Dengan mengikuti panduan dalam video tersebut, sekolah dapat menyusun perencanaan yang sistematis dan akuntabel.
Di era pendidikan modern, penyusunan program kerja yang efektif menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu pendekatan yang kini banyak digunakan adalah analisis rapor pendidikan, sebuah alat yang memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi satuan pendidikan. Berikut adalah langkah-langkah mudah, cepat, dan sederhana untuk menyusun program kerja yang relevan dan berdampak di tahun 2025:
Mengapa Rapor Pendidikan Penting?
Rapor pendidikan bukan sekadar dokumen formal, tetapi cerminan data nyata yang mencakup berbagai aspek, seperti capaian literasi, numerasi, karakter, hingga iklim keamanan di sekolah. Dengan memanfaatkan data ini, pendidik dapat mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, serta area yang perlu diperbaiki.
Langkah-Langkah Penyusunan Program Kerja
Berikut adalah panduan praktis untuk menyusun program kerja berbasis analisis rapor pendidikan:
Akses dan Pahami Data Rapor Pendidikan
Langkah pertama adalah mengunduh rapor pendidikan dari platform resmi yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan, seperti Dashboard Rapor Pendidikan. Dalam video, dijelaskan bahwa data ini biasanya mencakup indikator-indikator kunci seperti hasil Asesmen Nasional (AN), tingkat kepuasan siswa, dan kualitas pembelajaran. Luangkan waktu untuk memahami setiap angka dan narasi yang disajikan.
Identifikasi Prioritas Masalah
Setelah memahami data, fokuskan pada area yang menunjukkan performa rendah atau memerlukan perhatian khusus. Misalnya, jika rapor menunjukkan rendahnya kemampuan numerasi siswa, jadikan ini sebagai prioritas. Video menyarankan untuk menggunakan metode sederhana seperti diagram tulang ikan (fishbone diagram) untuk menganalisis akar masalah secara cepat.
Tetapkan Tujuan yang Spesifik
Berdasarkan masalah yang diidentifikasi, buat tujuan yang jelas dan terukur. Contohnya, “Meningkatkan kemampuan numerasi siswa kelas 5 sebesar 20% dalam 6 bulan.” Penjelasan dalam video menegaskan bahwa tujuan yang spesifik akan memudahkan evaluasi keberhasilan program.
Rancang Kegiatan yang Sederhana namun Efektif
Program kerja tidak perlu rumit. Video memberikan contoh kegiatan seperti pelatihan guru untuk metode pengajaran numerasi yang interaktif atau sesi belajar tambahan dengan permainan edukasi. Pastikan kegiatan ini realistis, sesuai anggaran, dan dapat dijalankan dalam waktu singkat.
Tentukan Indikator Keberhasilan
Agar program dapat dievaluasi, tentukan indikator keberhasilan yang konkret. Misalnya, “80% siswa mampu menyelesaikan soal numerasi dasar pada tes bulanan.” Video menyarankan untuk menggunakan data awal dari rapor pendidikan sebagai baseline.
Susun Jadwal dan Alokasi Sumber Daya
Buat timeline pelaksanaan yang jelas, misalnya dalam rentang satu semester, dan alokasikan sumber daya yang ada, seperti tenaga guru atau fasilitas sekolah. Video menekankan pentingnya kolaborasi dengan tim untuk memastikan semua pihak terlibat.
Evaluasi dan Laporkan Hasil
Setelah program berjalan, bandingkan hasil dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Video merekomendasikan untuk mendokumentasikan proses dan hasil dalam laporan singkat yang dapat diunggah kembali ke platform rapor pendidikan.
Tips Tambahan :
Gunakan Teknologi: Manfaatkan aplikasi seperti Excel atau Google Sheets untuk mengolah data dengan cepat atau tool AI misalnya Grok,Deepseek, ChatGPT atau tools AI lainnya
Libatkan Stakeholder: Diskusikan rancangan program dengan kepala sekolah, guru, dan bahkan orang tua untuk mendapatkan dukungan.
Fleksibel: Sesuaikan program dengan kondisi lokal sekolah agar lebih relevan.