Sabtu, 26 April 2025

Tanah yang Menagis

Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah jeritan bumi yang terluka, tangisan sunyi dari tanah yang dulu subur kini tercemar. Ia bicara tentang petani—mereka yang dulu menabur harap di ladang, kini menuai gelisah di antara panen yang tak pasti dan udara yang tak lagi bersahabat.

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5495148184439930"

     crossorigin="anonymous"></script>

"Tanah yang Menangis" mengajak kita melihat lebih dalam: bahwa di balik kemajuan dan panen melimpah, ada harga yang mungkin terlalu mahal untuk dibayar—kesehatan generasi, kesuburan tanah, dan warisan bumi yang lestari.


Mari dengarkan tangis itu. Mari renungkan:

Apakah kita ingin mewariskan ladang penuh kehidupan, atau ladang penuh racun?
Apakah kita akan terus diam, atau mulai memeluk tanah dengan kasih?

Sekarang adalah waktunya. Sebelum semuanya terlambat.

Senin, 14 April 2025

Penguatan Literasi dan Numerasi: Menjadi Jantung Pembelajaran yang Bermakna

Penguatan Literasi dan Numerasi: Menjadi Jantung Pembelajaran yang Bermakna

Dalam dunia pendidikan saat ini, keberhasilan peserta didik tidak semata ditentukan oleh kecakapan akademik, tetapi juga oleh kemampuan mereka dalam membaca, menulis, bernalar, dan menghitung. Inilah esensi dari literasi dan numerasi—dua fondasi utama yang menjadi nafas dalam proses pembelajaran abad ke-21.

Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi dalam berbagai konteks.

Sementara itu, numerasi bukan sekadar keterampilan berhitung, melainkan kapasitas berpikir logis dan memecahkan masalah berbasis data dalam kehidupan sehari-hari.


Kenyataannya, masih banyak tantangan yang harus dihadapi. Minat baca peserta didik yang rendah, kurangnya sarana dan prasarana di sekolah, hingga ketidaksiapan guru dalam merancang pembelajaran yang menyatu dengan literasi dan numerasi menjadi penghambat utama. Namun demikian, tantangan ini tidak bisa menjadi alasan stagnasi. Sebaliknya, harus dijawab dengan strategi pembelajaran yang aktif, kreatif, dan kolaboratif.

Penguatan literasi dan numerasi dapat dilakukan melalui berbagai pendekatan dan model pembelajaran. Salah satunya adalah model Project-Based Learning, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat aktif dalam proyek yang menggabungkan unsur literasi seperti membaca sumber informasi dan menulis laporan, serta unsur numerasi seperti mengumpulkan dan menganalisis data statistik. Contohnya, proyek membuat laporan tentang kebersihan lingkungan sekolah yang memerlukan wawancara, survei, analisis grafik, dan penyusunan narasi laporan.

Model lain yang tak kalah efektif adalah Cooperative Learning, yaitu pembelajaran berbasis kelompok kecil yang menekankan kolaborasi dan komunikasi. Dalam model ini, siswa dapat berdiskusi memecahkan soal cerita matematika, menulis hasil analisis, dan mempresentasikan temuannya kepada kelas. Strategi ini bukan hanya membangun keterampilan akademik, tetapi juga membentuk karakter yang kolaboratif dan komunikatif.

Kemampuan literasi dan numerasi juga dapat dikembangkan melalui Contextual Teaching and Learning (CTL). Dengan menghubungkan materi ajar dengan kehidupan nyata, siswa lebih mudah memahami dan mengaplikasikan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat mempelajari konsep diskon dalam matematika, siswa dapat diajak untuk membuat laporan belanja sederhana, menghitung diskon dan pajak, serta menyimpulkan hasilnya secara tertulis.

Dalam hal asesmen, penguatan literasi dan numerasi tidak cukup hanya dengan tes pilihan ganda. Perlu asesmen yang lebih holistik seperti portofolio, proyek, jurnal reflektif, hingga penilaian kinerja. Dengan cara ini, guru dapat melihat proses berpikir siswa, bukan hanya hasil akhirnya.

Implementasi dalam Pembelajaran dan Asesmen

Penguatan literasi dan numerasi seyogianya tidak dibatasi hanya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Berikut adalah contoh implementasi dalam beberapa mata pelajaran:

  1. Bahasa Indonesia

Siswa diminta menulis esai tentang topik sosial, lalu melakukan presentasi di depan kelas. Asesmennya mencakup kemampuan menyusun gagasan, penggunaan bahasa, dan penyampaian lisan.

  1. Matematika

Siswa menyelesaikan soal cerita yang berhubungan dengan kehidupan nyata, seperti menghitung pengeluaran rumah tangga. Mereka juga membuat grafik dari data yang dikumpulkan dan menjelaskan temuannya secara tertulis.

  1. IPA

Dalam proyek eksperimen sains, siswa mencatat pengamatan dalam jurnal, menghitung rata-rata hasil percobaan, dan menulis laporan ilmiah lengkap dengan interpretasi data.

  1. IPS

Siswa menganalisis data kependudukan atau hasil survei sederhana, lalu membuat laporan yang berisi grafik, tabel, dan narasi interpretatif.

  1. TIK

Siswa mencari informasi di internet tentang suatu topik, menyaring informasi yang valid, dan menyajikannya dalam bentuk infografik dengan data numerik yang relevan.

Penguatan literasi dan numerasi dalam pembelajaran dan asesmen bukanlah sekadar kebijakan, melainkan kebutuhan mendasar untuk mencetak generasi pembelajar yang siap menghadapi dunia yang penuh tantangan. Dengan strategi yang tepat, dukungan guru dan kolaborasi semua pihak, kita dapat mewujudkan pendidikan yang benar-benar memberdayakan


Sabtu, 12 April 2025

Menyalakan Perubahan: Program Pendampingan Sekolah Berbasis Data 2025

 

Menyalakan Perubahan: Program Pendampingan Sekolah Berbasis Data 2025

Oleh: Viktor Rega

Bayangkan Anda seorang pengawas sekolah yang bertanggung jawab membina 11 sekolah, mulai dari SMP hingga TKK/PAUD, dengan tantangan beragam: literasi yang tersendat, iklim keamanan yang goyah, hingga anggaran yang belum optimal. Tumpukan data dari Rapor Pendidikan 2025 menanti untuk diolah, tapi waktu terbatas, dan harapan besar dari stakeholders menekan. Bagaimana caranya menyusun program pendampingan yang tidak hanya efektif, tetapi juga cepat dan tepat sasaran? Artikel ini akan mengupas rahasia meramu program pendampingan berbasis data yang bisa mengubah wajah sekolah Anda di tahun 2025!

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5495148184439930"

     crossorigin="anonymous"></script>

Rapor Pendidikan 2025: Peta Harta Karun Pendidikan

Rapor Pendidikan 2025 bukan sekadar laporan tahunan; ia adalah peta harta karun yang mengungkap kekuatan dan kelemahan sekolah. Dari 11 sekolah binaan di wilayah Kabupaten Ngada,Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari 6 SMP dan 5 TKK/PAUD—data ini menyoroti isu krusial seperti rendahnya skor numerasi (misalnya, SMPN 2 Riung Lindi turun drastis -32.07%), maraknya hukuman fisik (SMPN Satap 3 Wolomeze mencatat 46.15%), hingga minimnya sarana prasarana di TKK (skor 2 di banyak sekolah). Namun, di balik tantangan, ada peluang emas: literasi SMPN 2 Riung Taenterong melonjak +25.45%, dan refleksi guru di TKK Negeri St. Maria Tarawali mencapai skor 94.35.

Prioritaskan kebutuhan “tinggi” seperti numerasi, iklim keamanan, dan sarana prasarana, lalu tangani isu Kunci suksesnya? “sedang” seperti literasi dan partisipasi warga sekolah. Dengan pendekatan ini, Anda bisa fokus pada masalah paling mendesak tanpa kehilangan arah.

Langkah 1: Petakan Prioritas dengan Presisi

Menyusun program pendampingan dimulai dari mengenali kebutuhan sekolah secara mendalam. Bayangkan Anda sedang mendiagnosis pasien: tanpa pemeriksaan yang tepat, pengobatan bisa salah sasaran. Rapor Pendidikan 2025 memberikan data akurat untuk mendiagnosis “penyakit” sekolah. Misalnya:

  1. SMPN Satap 3 Wolomeze: Numerasi (skor 57.03) dan iklim keamanan (hukuman fisik 46.15%) jadi prioritas tinggi. Literasi (64.29%) masuk prioritas sedang.
  2. TKK Negeri St. Fransiskus Tarawaja: Sarana prasarana (skor 2) dan iklim keamanan (68.46, turun -13.42) butuh perhatian mendesak, sementara perencanaan pembelajaran bisa ditangani bertahap.

Tabel prioritas yang ringkas—dengan kolom nama sekolah, prioritas tinggi, prioritas sedang, dan dasar data—adalah alat ajaib untuk memetakan kebutuhan. Dengan tabel ini, Anda bisa melihat gambaran besar tanpa tersesat dalam lautan angka.



 Langkah 2: Jenguk Jiwa Kepala Sekolah

Sekolah adalah cerminan kepala sekolahnya. Tanpa komitmen dan kapasitas mereka, program sehebat apa pun bisa mandek. Di sinilah pengawas berperan sebagai “pelatih” yang memahami jiwa timnya. Berdasarkan wawancara, kepala sekolah dibagi ke dalam dua kategori kesadaran refleksi: Berkembang (tahu masalah tapi rencana masih kabur) dan Berdaya (reflektif dengan solusi konkret).

Contohnya, kepala sekolah SMPN Satap 3 Wolomeze “Berdaya” karena mengakui rendahnya numerasi dan merencanakan pelatihan guru, sesuai data rapor (numerasi 53.57%). Sebaliknya, SMPN 2 Riung Lindi masih “Berkembang” karena hanya menyebut penurunan literasi (-24.45%) tanpa solusi jelas. Kapasitas memimpin juga bervariasi: SMPN 2 Soa “Sedang” dengan perencanaan numerasi yang solid (84.44%), sementara TKK Negeri Lindi “Rendah” karena minim respons terhadap skor sarana (2).

Tips praktis? 

Gunakan tiga pertanyaan pemantik:

  1. Apa kekuatan dan kelemahan sekolah Anda?
  2. Bagaimana Anda mengatasi kelemahan?
  3. Apa rencana untuk mempertahankan kekuatan?

Jawaban mereka adalah cermin untuk merancang pendampingan yang pas.

Langkah 3: Rancang Pendampingan yang Hidup

Pendampingan bukan sekadar kunjungan formal; ia adalah proses membangun perubahan nyata. Program pendampingan 2025 dirancang spesifik untuk jenjang SMP (fokus literasi, numerasi, karakter) dan TKK/PAUD (pembelajaran anak usia dini, iklim keamanan). Berikut contohnya:

  1. SMPN Satap 3 Wolomeze: Coaching untuk workshop numerasi bilangan (Jan-Mar) dan training disiplin positif untuk kurangi hukuman fisik.
  2. TKK St. Fransiskus Tarawaja: Facilitating koordinasi BOS untuk sanitasi dan training disiplin positif, menangani skor sarana (2) yang kritis.

Durasi pendampingan diatur strategis: prioritas tinggi ditangani intensif di kuartal pertama (2 kali kunjungan), sementara prioritas sedang di kuartal berikutnya (1 kali). Total, setiap sekolah mendapat minimal tiga sesi pendampingan sepanjang 2025.

Langkah 4: Pilih Strategi dan Metode yang Tepat

Setiap kepala sekolah punya “DNA” berbeda. Kombinasi kesadaran dan kapasitas mereka menentukan strategi pendampingan. Misalnya:

  1. Pemicu Perubahan untuk SMPN 2 Riung Lindi (Berkembang-Rendah): Consulting untuk bangun perencanaan berbasis data, diikuti training literasi dan numerasi.
  2. Penguatan Kapasitas untuk SMPN 2 Soa (Berdaya-Sedang): Coaching untuk optimalkan numerasi dan facilitating forum keamanan.

Metode pendampingan juga bervariasi: coaching untuk implementasi program, training untuk keterampilan teknis, consulting untuk perencanaan awal, dan facilitating untuk kolaborasi eksternal. Dengan pendekatan ini, pendampingan terasa hidup dan relevan.

Langkah 5: Jadwalkan dengan Cerdas

Waktu adalah emas. Jadwal pendampingan 2025 dirancang untuk memaksimalkan dampak:

  1. Januari-Maret: Fokus prioritas tinggi seperti numerasi (SMP) dan sarana (TKK). Contoh: Coaching numerasi di SMPN Satap 3 Wolomeze dan facilitating BOS di TKK St. Fransiskus.
  2. April-Juni: Tangani prioritas sedang seperti literasi dan partisipasi warga.
  3. Juli-Desember: Evaluasi dan penguatan program.

Jadwal ini memastikan setiap sekolah mendapat perhatian cukup tanpa membebani pengawas.

Langkah 6: Ukur Keberhasilan dengan Jelas

Tanpa indikator, pendampingan seperti berlayar tanpa kompas. Target terukur disusun untuk setiap sekolah, misalnya:

  1. SMPN Satap 3 Wolomeze: Skor numerasi naik 5%, hukuman fisik turun 10%.
  2. TKK Buana Pore: Skor kemampuan fondasi naik 5%, partisipasi orang tua naik 5%.

Selain itu, 50% kepala sekolah diharapkan naik ke kategori “Berdaya” dan “Tinggi” dalam kesadaran dan kapasitas. Laporan bulanan (ringkasan kegiatan, temuan, rekomendasi) dan tahunan (capaian indikator, saran 2026) jadi alat pantau yang sederhana namun kuat.

Mengapa Ini Penting?

Program pendampingan berbasis Rapor Pendidikan 2025 bukan hanya soal memenuhi tugas pengawas, tetapi tentang menciptakan perubahan nyata. Bayangkan siswa SMPN 2 Soa yang kini lebih mahir berhitung, atau anak-anak TKK St. Maria Tarawali yang belajar di lingkungan aman dan menyenangkan. Dengan pendekatan yang terstruktur—dari pemetaan prioritas hingga pengukuran keberhasilan—pengawas bisa menjadi katalis perubahan tanpa kewalahan.

Mulai Sekarang, Ubah Besok!

Menyusun program pendampingan sekolah tidak harus rumit. Dengan Rapor Pendidikan 2025 sebagai panduan, pengawas bisa bekerja cepat dan efektif: petakan prioritas, kenali kepala sekolah, rancang pendampingan yang hidup, dan ukur dampaknya. Di Bajawa, 11 sekolah menanti transformasi—dari numerasi yang lebih kuat hingga iklim sekolah yang lebih aman. Ambil langkah pertama hari ini, dan saksikan perubahan besar di 2025!

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5495148184439930"

     crossorigin="anonymous"></script>

Referensi:

  1. Peraturan Dirjen GTK No. 4831/2023 tentang Peran Pengawas Sekolah.
  2. Rapor Pendidikan 2025, Data Sekolah Binaan Bajawa
Bagi bpk/ibu yang ingin mendownload dokumen terkait program pendampingan pengawas sekolah (Contoh program pendampingan, Contoh format wawancara kepala sekolah, prompt penyusunan program pendampingan berdasarkan analisis rapor pendidikan 2025) silahkan unduh tautan berikut:

Rabu, 09 April 2025

CARA CEPAT DAN AKURAT MENYUSUN RKT DAN ARKAS DARI RAPOR PENDIDIKAN 2025

Dalam perencanaan pendidikan, Rencana Kerja Tahunan (RKT) dan Anggaran Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (ARKAS) merupakan dua komponen penting untuk memastikan sekolah dapat menjalankan programnya secara efektif dan transparan. Berikut adalah panduan menyusun RKT dan ARKAS :

🔗 https://youtu.be/aMqqHGhFOtg?si=-CMiUF9_D0b9NA6H


Langkah-Langkah Menyusun RKT

  1. Analisis Kebutuhan Sekolah

    • Identifikasi kebutuhan berdasarkan evaluasi tahun sebelumnya, seperti sarana prasarana, peningkatan SDM, atau program pembelajaran.

    • Gunakan data seperti hasil rapat komite sekolah, laporan evaluasi diri, dan masukan guru.

  2. Menetapkan Prioritas Program

    • Tentukan program yang mendukung visi-misi sekolah.

    • Contoh: Pelatihan guru, perbaikan fasilitas, atau kegiatan ekstrakurikuler.

  3. Menyusun Rencana Kegiatan dan Anggaran

    • Rinci kegiatan beserta waktu pelaksanaan dan penanggung jawab.

    • Alokasikan dana sesuai kebutuhan dengan mempertimbangkan sumber dana (BOS, komite, atau APBD).

  4. Dokumentasi dan Pengesahan

    • RKT harus disahkan oleh kepala sekolah dan komite sekolah sebagai bentuk pertanggungjawaban.

Langkah-Langkah Menyusun ARKAS

  1. Memasukkan Program RKT ke dalam ARKAS

    • ARKAS adalah bentuk digital dari RKT yang terintegrasi dengan sistem Kemdikbud.

    • Pastikan semua program dan anggaran sesuai dengan RKT.

  2. Mengisi Data di Platform ARKAS

  3. Verifikasi dan Submit

    • Periksa kembali kelengkapan data sebelum mengajukan.

    • Pastikan dokumen pendukung seperti RKT dan RKAS sudah sesuai.

Penyusunan RKT dan ARKAS membutuhkan ketelitian dan koordinasi antara kepala sekolah, bendahara, dan komite. Dengan mengikuti panduan dalam video tersebut, sekolah dapat menyusun perencanaan yang sistematis dan akuntabel.

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5495148184439930"

     crossorigin="anonymous"></script>

Silahkan download beberapa file untuk kebutuhan menyusun RKT/ARKAS:

Sabtu, 05 April 2025

CARA MUDAH, CEPAT DAN SEDERHANA PENYUSUNAN PROGRAM KERJA BERBASIS ANALISIS RAPOR PENDIDIKAN 2025


CARA MUDAH, CEPAT DAN SEDERHANA PENYUSUNAN PROGRAM KERJA BERBASIS ANALISIS RAPOR PENDIDIKAN 2025
 


Di era pendidikan modern, penyusunan program kerja yang efektif menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu pendekatan yang kini banyak digunakan adalah analisis rapor pendidikan, sebuah alat yang memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi satuan pendidikan. Berikut adalah langkah-langkah mudah, cepat, dan sederhana untuk menyusun program kerja yang relevan dan berdampak di tahun 2025:

Mengapa Rapor Pendidikan Penting?

Rapor pendidikan bukan sekadar dokumen formal, tetapi cerminan data nyata yang mencakup berbagai aspek, seperti capaian literasi, numerasi, karakter, hingga iklim keamanan di sekolah. Dengan memanfaatkan data ini, pendidik dapat mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, serta area yang perlu diperbaiki.

Langkah-Langkah Penyusunan Program Kerja

Berikut adalah panduan praktis untuk menyusun program kerja berbasis analisis rapor pendidikan:

  1. Akses dan Pahami Data Rapor Pendidikan
    Langkah pertama adalah mengunduh rapor pendidikan dari platform resmi yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan, seperti Dashboard Rapor Pendidikan. Dalam video, dijelaskan bahwa data ini biasanya mencakup indikator-indikator kunci seperti hasil Asesmen Nasional (AN), tingkat kepuasan siswa, dan kualitas pembelajaran. Luangkan waktu untuk memahami setiap angka dan narasi yang disajikan.
  2. Identifikasi Prioritas Masalah
    Setelah memahami data, fokuskan pada area yang menunjukkan performa rendah atau memerlukan perhatian khusus. Misalnya, jika rapor menunjukkan rendahnya kemampuan numerasi siswa, jadikan ini sebagai prioritas. Video menyarankan untuk menggunakan metode sederhana seperti diagram tulang ikan (fishbone diagram) untuk menganalisis akar masalah secara cepat.
  3. Tetapkan Tujuan yang Spesifik
    Berdasarkan masalah yang diidentifikasi, buat tujuan yang jelas dan terukur. Contohnya, “Meningkatkan kemampuan numerasi siswa kelas 5 sebesar 20% dalam 6 bulan.” Penjelasan dalam video menegaskan bahwa tujuan yang spesifik akan memudahkan evaluasi keberhasilan program.
  4. Rancang Kegiatan yang Sederhana namun Efektif
    Program kerja tidak perlu rumit. Video memberikan contoh kegiatan seperti pelatihan guru untuk metode pengajaran numerasi yang interaktif atau sesi belajar tambahan dengan permainan edukasi. Pastikan kegiatan ini realistis, sesuai anggaran, dan dapat dijalankan dalam waktu singkat.
  5. Tentukan Indikator Keberhasilan
    Agar program dapat dievaluasi, tentukan indikator keberhasilan yang konkret. Misalnya, “80% siswa mampu menyelesaikan soal numerasi dasar pada tes bulanan.” Video menyarankan untuk menggunakan data awal dari rapor pendidikan sebagai baseline.
  6. Susun Jadwal dan Alokasi Sumber Daya
    Buat timeline pelaksanaan yang jelas, misalnya dalam rentang satu semester, dan alokasikan sumber daya yang ada, seperti tenaga guru atau fasilitas sekolah. Video menekankan pentingnya kolaborasi dengan tim untuk memastikan semua pihak terlibat.
  7. Evaluasi dan Laporkan Hasil
    Setelah program berjalan, bandingkan hasil dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Video merekomendasikan untuk mendokumentasikan proses dan hasil dalam laporan singkat yang dapat diunggah kembali ke platform rapor pendidikan.

Tips Tambahan :

  1. Gunakan Teknologi: Manfaatkan aplikasi seperti Excel atau Google Sheets untuk mengolah data dengan cepat atau tool AI misalnya Grok,Deepseek, ChatGPT atau tools AI lainnya
  2. Libatkan Stakeholder: Diskusikan rancangan program dengan kepala sekolah, guru, dan bahkan orang tua untuk mendapatkan dukungan.
  3. Fleksibel: Sesuaikan program dengan kondisi lokal sekolah agar lebih relevan.

<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5495148184439930"

     crossorigin="anonymous"></script>

Bagi Bpk/ibu yang membutuhkan promt AI,silahkan unduh pada file di bawah ini:

1. PROMT ANALISIS RAPOR PENDIDIKAN TKK/PAUD

2. PROMPT ANALISIS RAPOR PENDIDIKAN SD/SMP/SMA/SMK

3. PROMPT PENYUSUAN PROGRAM KERJA


Mengapa Pendidikan Inklusif Penting? Ini Peran Guru, Orang Tua, dan Sekolah

Ilustrasi Pendidikan Inklusif (Sumber :Dokpri) , Pendidikan adalah hak dasar setiap anak, tanpa memandang latar belakang, kemampuan, atau ko...