Menyalakan
Perubahan: Program Pendampingan Sekolah Berbasis Data 2025
Oleh:
Viktor Rega
Bayangkan
Anda seorang pengawas sekolah yang bertanggung jawab membina 11 sekolah, mulai
dari SMP hingga TKK/PAUD, dengan tantangan beragam: literasi yang tersendat,
iklim keamanan yang goyah, hingga anggaran yang belum optimal. Tumpukan data
dari Rapor Pendidikan 2025 menanti untuk diolah, tapi waktu terbatas, dan
harapan besar dari stakeholders menekan. Bagaimana caranya menyusun program
pendampingan yang tidak hanya efektif, tetapi juga cepat dan tepat sasaran?
Artikel ini akan mengupas rahasia meramu program pendampingan berbasis data
yang bisa mengubah wajah sekolah Anda di tahun 2025!
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5495148184439930"
crossorigin="anonymous"></script>
Rapor Pendidikan 2025: Peta Harta Karun Pendidikan
Rapor
Pendidikan 2025 bukan sekadar laporan tahunan; ia adalah peta harta karun yang
mengungkap kekuatan dan kelemahan sekolah. Dari 11 sekolah binaan di wilayah
Kabupaten Ngada,Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari 6 SMP dan 5 TKK/PAUD—data ini menyoroti isu krusial seperti rendahnya
skor numerasi (misalnya, SMPN 2 Riung Lindi turun drastis -32.07%), maraknya
hukuman fisik (SMPN Satap 3 Wolomeze mencatat 46.15%), hingga minimnya sarana
prasarana di TKK (skor 2 di banyak sekolah). Namun, di balik tantangan, ada
peluang emas: literasi SMPN 2 Riung Taenterong melonjak +25.45%, dan refleksi
guru di TKK Negeri St. Maria Tarawali mencapai skor 94.35.
Prioritaskan kebutuhan “tinggi” seperti numerasi, iklim keamanan, dan sarana prasarana, lalu tangani isu Kunci suksesnya? “sedang” seperti literasi dan partisipasi warga sekolah. Dengan pendekatan ini, Anda bisa fokus pada masalah paling mendesak tanpa kehilangan arah.
Langkah
1: Petakan Prioritas dengan Presisi
Menyusun
program pendampingan dimulai dari mengenali kebutuhan sekolah secara mendalam.
Bayangkan Anda sedang mendiagnosis pasien: tanpa pemeriksaan yang tepat,
pengobatan bisa salah sasaran. Rapor Pendidikan 2025 memberikan data akurat
untuk mendiagnosis “penyakit” sekolah. Misalnya:
- SMPN
Satap 3 Wolomeze:
Numerasi (skor 57.03) dan iklim keamanan (hukuman fisik 46.15%) jadi
prioritas tinggi. Literasi (64.29%) masuk prioritas sedang.
- TKK
Negeri St. Fransiskus Tarawaja:
Sarana prasarana (skor 2) dan iklim keamanan (68.46, turun -13.42) butuh
perhatian mendesak, sementara perencanaan pembelajaran bisa ditangani
bertahap.
Tabel
prioritas yang ringkas—dengan kolom nama sekolah, prioritas tinggi, prioritas
sedang, dan dasar data—adalah alat ajaib untuk memetakan kebutuhan. Dengan
tabel ini, Anda bisa melihat gambaran besar tanpa tersesat dalam lautan angka.
Sekolah
adalah cerminan kepala sekolahnya. Tanpa komitmen dan kapasitas mereka, program
sehebat apa pun bisa mandek. Di sinilah pengawas berperan sebagai “pelatih”
yang memahami jiwa timnya. Berdasarkan wawancara, kepala sekolah dibagi ke
dalam dua kategori kesadaran refleksi: Berkembang (tahu masalah tapi
rencana masih kabur) dan Berdaya (reflektif dengan solusi konkret).
Contohnya,
kepala sekolah SMPN Satap 3 Wolomeze “Berdaya” karena mengakui rendahnya
numerasi dan merencanakan pelatihan guru, sesuai data rapor (numerasi 53.57%).
Sebaliknya, SMPN 2 Riung Lindi masih “Berkembang” karena hanya menyebut
penurunan literasi (-24.45%) tanpa solusi jelas. Kapasitas memimpin juga
bervariasi: SMPN 2 Soa “Sedang” dengan perencanaan numerasi yang solid
(84.44%), sementara TKK Negeri Lindi “Rendah” karena minim respons terhadap
skor sarana (2).
Tips praktis?
Gunakan tiga pertanyaan pemantik:
- Apa
kekuatan dan kelemahan sekolah Anda?
- Bagaimana
Anda mengatasi kelemahan?
- Apa
rencana untuk mempertahankan kekuatan?
Jawaban
mereka adalah cermin untuk merancang pendampingan yang pas.
Langkah
3: Rancang Pendampingan yang Hidup
Pendampingan
bukan sekadar kunjungan formal; ia adalah proses membangun perubahan nyata.
Program pendampingan 2025 dirancang spesifik untuk jenjang SMP (fokus literasi,
numerasi, karakter) dan TKK/PAUD (pembelajaran anak usia dini, iklim keamanan).
Berikut contohnya:
- SMPN
Satap 3 Wolomeze:
Coaching untuk workshop numerasi bilangan (Jan-Mar) dan training disiplin
positif untuk kurangi hukuman fisik.
- TKK
St. Fransiskus Tarawaja:
Facilitating koordinasi BOS untuk sanitasi dan training disiplin positif,
menangani skor sarana (2) yang kritis.
Durasi
pendampingan diatur strategis: prioritas tinggi ditangani intensif di kuartal
pertama (2 kali kunjungan), sementara prioritas sedang di kuartal berikutnya (1
kali). Total, setiap sekolah mendapat minimal tiga sesi pendampingan sepanjang
2025.
Langkah
4: Pilih Strategi dan Metode yang Tepat
Setiap
kepala sekolah punya “DNA” berbeda. Kombinasi kesadaran dan kapasitas mereka
menentukan strategi pendampingan. Misalnya:
- Pemicu
Perubahan untuk SMPN
2 Riung Lindi (Berkembang-Rendah): Consulting untuk bangun perencanaan
berbasis data, diikuti training literasi dan numerasi.
- Penguatan
Kapasitas untuk SMPN
2 Soa (Berdaya-Sedang): Coaching untuk optimalkan numerasi dan
facilitating forum keamanan.
Metode
pendampingan juga bervariasi: coaching untuk implementasi program, training
untuk keterampilan teknis, consulting untuk perencanaan awal, dan facilitating
untuk kolaborasi eksternal. Dengan pendekatan ini, pendampingan terasa hidup
dan relevan.
Langkah
5: Jadwalkan dengan Cerdas
Waktu
adalah emas. Jadwal pendampingan 2025 dirancang untuk memaksimalkan dampak:
- Januari-Maret: Fokus prioritas tinggi seperti numerasi (SMP) dan sarana (TKK). Contoh: Coaching numerasi di SMPN Satap 3 Wolomeze dan facilitating BOS di TKK St. Fransiskus.
- April-Juni: Tangani prioritas sedang seperti
literasi dan partisipasi warga.
- Juli-Desember: Evaluasi dan penguatan program.
Jadwal
ini memastikan setiap sekolah mendapat perhatian cukup tanpa membebani
pengawas.
Langkah
6: Ukur Keberhasilan dengan Jelas
Tanpa
indikator, pendampingan seperti berlayar tanpa kompas. Target terukur disusun
untuk setiap sekolah, misalnya:
- SMPN
Satap 3 Wolomeze:
Skor numerasi naik 5%, hukuman fisik turun 10%.
- TKK
Buana Pore: Skor
kemampuan fondasi naik 5%, partisipasi orang tua naik 5%.
Selain
itu, 50% kepala sekolah diharapkan naik ke kategori “Berdaya” dan “Tinggi”
dalam kesadaran dan kapasitas. Laporan bulanan (ringkasan kegiatan, temuan,
rekomendasi) dan tahunan (capaian indikator, saran 2026) jadi alat pantau yang
sederhana namun kuat.
Mengapa Ini Penting?
Program
pendampingan berbasis Rapor Pendidikan 2025 bukan hanya soal memenuhi tugas
pengawas, tetapi tentang menciptakan perubahan nyata. Bayangkan siswa SMPN 2
Soa yang kini lebih mahir berhitung, atau anak-anak TKK St. Maria Tarawali yang
belajar di lingkungan aman dan menyenangkan. Dengan pendekatan yang
terstruktur—dari pemetaan prioritas hingga pengukuran keberhasilan—pengawas
bisa menjadi katalis perubahan tanpa kewalahan.
Mulai Sekarang, Ubah Besok!
Menyusun
program pendampingan sekolah tidak harus rumit. Dengan Rapor Pendidikan 2025
sebagai panduan, pengawas bisa bekerja cepat dan efektif: petakan prioritas,
kenali kepala sekolah, rancang pendampingan yang hidup, dan ukur dampaknya. Di
Bajawa, 11 sekolah menanti transformasi—dari numerasi yang lebih kuat hingga
iklim sekolah yang lebih aman. Ambil langkah pertama hari ini, dan saksikan
perubahan besar di 2025!
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5495148184439930"
crossorigin="anonymous"></script>
Referensi:
- Peraturan
Dirjen GTK No. 4831/2023 tentang Peran Pengawas Sekolah.
- Rapor Pendidikan 2025, Data Sekolah Binaan Bajawa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar