Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah jeritan bumi yang terluka, tangisan sunyi dari tanah yang dulu subur kini tercemar. Ia bicara tentang petani—mereka yang dulu menabur harap di ladang, kini menuai gelisah di antara panen yang tak pasti dan udara yang tak lagi bersahabat.
<script async src="https://pagead2.googlesyndication.com/pagead/js/adsbygoogle.js?client=ca-pub-5495148184439930"
crossorigin="anonymous"></script>
"Tanah yang Menangis" mengajak kita melihat lebih dalam: bahwa di balik kemajuan dan panen melimpah, ada harga yang mungkin terlalu mahal untuk dibayar—kesehatan generasi, kesuburan tanah, dan warisan bumi yang lestari.
Mari dengarkan tangis itu. Mari renungkan:
Apakah kita ingin mewariskan ladang penuh kehidupan, atau ladang penuh racun?
Apakah kita akan terus diam, atau mulai memeluk tanah dengan kasih?
Sekarang adalah waktunya. Sebelum semuanya terlambat.