Jumat, 02 Mei 2025

Melodi Kasih di Setiap Langkah (Bagian 1)

Cover "melodi Kasih di Setiap Langkah" (Dokpri)

Senyuman di Kedai Cinta

 

"Cinta pertama adalah seperti matahari pagi—datangnya tak terduga, menyentuh dengan hangat, dan tak pernah benar-benar kita lupakan, bahkan ketika hari telah berubah senja."


Langit Bajawa sore itu tak seberapa cerah, tapi cukup ramah. Angin berembus lembut menyapu dahi, membawa aroma kopi dan kenangan yang belum sempat tercipta. Aku melangkah pelan menuju sebuah kedai kecil di ujung jalan pasar, tempat yang tak asing namun sore itu terasa berbeda.

Saat langkahku menjejak teras kayu kedai, pandanganku bertaut dengan sepasang mata teduh—mata milik seorang gadis berseragam SMP, duduk di sudut meja sambil menyesap teh. Ada ketenangan di wajahnya, seolah ia membawa damai dalam dirinya dan menyebarkannya ke sekeliling.

Aku memberanikan diri mendekat.

"Dek, kamu sekolah di SMA mana?" tanyaku dengan senyum hangat, namun jujur saja, ada gugup di balik tanya itu.

Dia menoleh, matanya berbinar polos.

"Aku masih kelas satu SMP, Kak," jawabnya dengan suara yang jernih, disertai senyum yang membuat waktu seperti melambat.

Aku tertawa kecil, sedikit malu.

"Wah, maaf ya. Kukira kamu anak SMA. Gayamu tenang sekali, dan… ya, kamu cantik."
Pipinya merona, matanya menunduk malu. Senyumnya mengembang seperti bunga yang baru disentuh cahaya.

"Namaku Marie. Marie Yosephine. Aku bantu orang tuaku jaga kedai ini."

Aku mengangguk, menyembunyikan keterkejutan dalam dadaku.

"Aku Rian. Sekolah di SMA Negeri Bajawa. Sepertinya aku akan sering mampir ke sini mulai sekarang."

Ia hanya tersenyum. Tapi senyuman itu cukup untuk membuatku ingin menetap lebih lama di dunia kecil yang baru saja kubuka bersamanya.

Hari-hari berikutnya kami sering bertemu. Awalnya hanya percakapan ringan—tentang pelajaran, tentang pelanggan kedai, atau sekadar berbagi tawa. Tapi perlahan, ada ruang-ruang kosong dalam diriku yang mulai terisi olehnya.

Kedai itu, yang awalnya tempat singgah, berubah menjadi tempat pulang.

Di suatu sore berawan, aku mengajaknya keluar sejenak. Kami duduk di bawah pohon flamboyan yang tak jauh dari kedai. Angin meniupkan aroma kopi dan daun kering, menyulam suasana yang seperti diambil dari bait puisi yang lupa ditulis.

"Marie..." suaraku lirih namun mantap, "Sejak pertama kita bicara, aku merasa... ada yang berbeda. Rasanya seperti menemukan dunia baru dalam dirimu."

Dia menatapku, ada getar yang tak bisa disembunyikan di bola matanya.

"Apa maksud Kakak?" bisiknya.

Aku tersenyum.

"Entahlah. Tapi setiap kali bersamamu, aku merasa tenang. Seolah-olah... hidup ini tidak sesepi itu."

Hari-hari kami terus bergulir seperti lembar buku harian yang ditulis dengan tinta rasa. Kadang kami hanya duduk berdua, berbagi diam yang indah. Kadang kami tertawa seperti anak-anak, tak peduli dunia sedang apa. Waktu terasa seperti milik kami berdua saja.

Kedai itu menjadi saksi.
Senyum Marie menjadi cahaya.
Dan aku—pemuda SMA dengan mimpi besar dan hati yang mulai belajar mencintai—mulai menyadari, bahwa mungkin, ini bukan sekadar suka.

Ini awal dari melodi cinta yang akan terus terdengar, bahkan ketika kedai sudah sepi dan daun flamboyan tak lagi gugur.

 

Mengapa Pendidikan Inklusif Penting? Ini Peran Guru, Orang Tua, dan Sekolah

Ilustrasi Pendidikan Inklusif (Sumber :Dokpri) , Pendidikan adalah hak dasar setiap anak, tanpa memandang latar belakang, kemampuan, atau ko...