"Cinta
pertama adalah seperti matahari pagi—datangnya tak terduga, menyentuh dengan
hangat, dan tak pernah benar-benar kita lupakan, bahkan ketika hari telah berubah
senja."
Langit Bajawa
sore itu tak seberapa cerah, tapi cukup ramah. Angin berembus lembut menyapu
dahi, membawa aroma kopi dan kenangan yang belum sempat tercipta. Aku melangkah
pelan menuju sebuah kedai kecil di ujung jalan pasar, tempat yang tak asing
namun sore itu terasa berbeda.
Saat langkahku
menjejak teras kayu kedai, pandanganku bertaut dengan sepasang mata teduh—mata
milik seorang gadis berseragam SMP, duduk di sudut meja sambil menyesap teh.
Ada ketenangan di wajahnya, seolah ia membawa damai dalam dirinya dan
menyebarkannya ke sekeliling.
Aku
memberanikan diri mendekat.
"Dek, kamu
sekolah di SMA mana?" tanyaku dengan senyum hangat, namun jujur saja, ada
gugup di balik tanya itu.
Dia menoleh,
matanya berbinar polos.
"Aku masih
kelas satu SMP, Kak," jawabnya dengan suara yang jernih, disertai senyum
yang membuat waktu seperti melambat.
Aku tertawa
kecil, sedikit malu.
"Wah, maaf
ya. Kukira kamu anak SMA. Gayamu tenang sekali, dan… ya, kamu cantik."
Pipinya merona, matanya menunduk malu. Senyumnya mengembang seperti bunga yang
baru disentuh cahaya.
"Namaku
Marie. Marie Yosephine. Aku bantu orang tuaku jaga kedai ini."
Aku mengangguk,
menyembunyikan keterkejutan dalam dadaku.
"Aku Rian.
Sekolah di SMA Negeri Bajawa. Sepertinya aku akan sering mampir ke sini mulai
sekarang."
Ia hanya
tersenyum. Tapi senyuman itu cukup untuk membuatku ingin menetap lebih lama di
dunia kecil yang baru saja kubuka bersamanya.
Hari-hari
berikutnya kami sering bertemu. Awalnya hanya percakapan ringan—tentang
pelajaran, tentang pelanggan kedai, atau sekadar berbagi tawa. Tapi perlahan,
ada ruang-ruang kosong dalam diriku yang mulai terisi olehnya.
Kedai itu, yang
awalnya tempat singgah, berubah menjadi tempat pulang.
Di suatu sore
berawan, aku mengajaknya keluar sejenak. Kami duduk di bawah pohon flamboyan
yang tak jauh dari kedai. Angin meniupkan aroma kopi dan daun kering, menyulam
suasana yang seperti diambil dari bait puisi yang lupa ditulis.
"Marie..."
suaraku lirih namun mantap, "Sejak pertama kita bicara, aku merasa... ada
yang berbeda. Rasanya seperti menemukan dunia baru dalam dirimu."
Dia menatapku,
ada getar yang tak bisa disembunyikan di bola matanya.
"Apa
maksud Kakak?" bisiknya.
Aku tersenyum.
"Entahlah.
Tapi setiap kali bersamamu, aku merasa tenang. Seolah-olah... hidup ini tidak sesepi itu."
Hari-hari kami
terus bergulir seperti lembar buku harian yang ditulis dengan tinta rasa.
Kadang kami hanya duduk berdua, berbagi diam yang indah. Kadang kami tertawa
seperti anak-anak, tak peduli dunia sedang apa. Waktu terasa seperti milik kami
berdua saja.
Kedai itu
menjadi saksi.
Senyum Marie menjadi cahaya.
Dan aku—pemuda SMA dengan mimpi besar dan hati yang mulai belajar
mencintai—mulai menyadari, bahwa mungkin, ini bukan sekadar suka.
Ini awal dari
melodi cinta yang akan terus terdengar, bahkan ketika kedai sudah sepi dan daun
flamboyan tak lagi gugur.
Puisi ini bukan sekadar rangkaian kata. Ia adalah jeritan bumi yang terluka, tangisan sunyi dari tanah yang dulu subur kini tercemar. Ia bicara tentang petani—mereka yang dulu menabur harap di ladang, kini menuai gelisah di antara panen yang tak pasti dan udara yang tak lagi bersahabat.
"Tanah yang Menangis" mengajak kita melihat lebih dalam: bahwa di balik kemajuan dan panen melimpah, ada harga yang mungkin terlalu mahal untuk dibayar—kesehatan generasi, kesuburan tanah, dan warisan bumi yang lestari.
Mari dengarkan tangis itu. Mari renungkan:
Apakah kita ingin mewariskan ladang penuh kehidupan, atau ladang penuh racun?
Apakah kita akan terus diam, atau mulai memeluk tanah dengan kasih?
Sekarang adalah waktunya. Sebelum semuanya terlambat.
Penguatan Literasi dan Numerasi: Menjadi Jantung Pembelajaran
yang Bermakna
Dalam dunia pendidikan saat ini, keberhasilan peserta didik
tidak semata ditentukan oleh kecakapan akademik, tetapi juga oleh kemampuan
mereka dalam membaca, menulis, bernalar, dan menghitung. Inilah esensi dari
literasi dan numerasi—dua fondasi utama yang menjadi nafas dalam proses
pembelajaran abad ke-21.
Literasi bukan hanya soal membaca dan menulis, tetapi
kemampuan untuk memahami, menganalisis, dan menggunakan informasi dalam
berbagai konteks.
Sementara itu, numerasi bukan sekadar keterampilan berhitung,
melainkan kapasitas berpikir logis dan memecahkan masalah berbasis data dalam
kehidupan sehari-hari.
Kenyataannya, masih banyak tantangan yang harus dihadapi.
Minat baca peserta didik yang rendah, kurangnya sarana dan prasarana di
sekolah, hingga ketidaksiapan guru dalam merancang pembelajaran yang menyatu
dengan literasi dan numerasi menjadi penghambat utama. Namun demikian,
tantangan ini tidak bisa menjadi alasan stagnasi. Sebaliknya, harus dijawab
dengan strategi pembelajaran yang aktif, kreatif, dan kolaboratif.
Penguatan literasi dan numerasi dapat dilakukan melalui
berbagai pendekatan dan model pembelajaran. Salah satunya adalah model Project-Based
Learning, di mana siswa tidak hanya belajar teori, tetapi terlibat aktif dalam
proyek yang menggabungkan unsur literasi seperti membaca sumber informasi dan
menulis laporan, serta unsur numerasi seperti mengumpulkan dan menganalisis
data statistik. Contohnya, proyek membuat laporan tentang kebersihan lingkungan
sekolah yang memerlukan wawancara, survei, analisis grafik, dan penyusunan
narasi laporan.
Model lain yang tak kalah efektif adalah Cooperative Learning,
yaitu pembelajaran berbasis kelompok kecil yang menekankan kolaborasi dan
komunikasi. Dalam model ini, siswa dapat berdiskusi memecahkan soal cerita
matematika, menulis hasil analisis, dan mempresentasikan temuannya kepada
kelas. Strategi ini bukan hanya membangun keterampilan akademik, tetapi juga
membentuk karakter yang kolaboratif dan komunikatif.
Kemampuan literasi dan numerasi juga dapat dikembangkan
melalui Contextual Teaching and Learning (CTL). Dengan menghubungkan materi
ajar dengan kehidupan nyata, siswa lebih mudah memahami dan mengaplikasikan
pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, saat mempelajari konsep
diskon dalam matematika, siswa dapat diajak untuk membuat laporan belanja
sederhana, menghitung diskon dan pajak, serta menyimpulkan hasilnya secara
tertulis.
Dalam hal asesmen, penguatan literasi dan numerasi tidak cukup
hanya dengan tes pilihan ganda. Perlu asesmen yang lebih holistik seperti
portofolio, proyek, jurnal reflektif, hingga penilaian kinerja. Dengan cara
ini, guru dapat melihat proses berpikir siswa, bukan hanya hasil akhirnya.
Implementasi dalam Pembelajaran dan Asesmen
Penguatan literasi dan numerasi seyogianya tidak dibatasi
hanya pada mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Matematika. Berikut adalah
contoh implementasi dalam beberapa mata pelajaran:
Bahasa
Indonesia
Siswa diminta menulis esai
tentang topik sosial, lalu melakukan presentasi di depan kelas. Asesmennya
mencakup kemampuan menyusun gagasan, penggunaan bahasa, dan penyampaian lisan.
Matematika
Siswa menyelesaikan soal cerita
yang berhubungan dengan kehidupan nyata, seperti menghitung pengeluaran rumah
tangga. Mereka juga membuat grafik dari data yang dikumpulkan dan menjelaskan
temuannya secara tertulis.
IPA
Dalam proyek eksperimen sains,
siswa mencatat pengamatan dalam jurnal, menghitung rata-rata hasil percobaan,
dan menulis laporan ilmiah lengkap dengan interpretasi data.
IPS
Siswa menganalisis data
kependudukan atau hasil survei sederhana, lalu membuat laporan yang berisi
grafik, tabel, dan narasi interpretatif.
TIK
Siswa mencari informasi di
internet tentang suatu topik, menyaring informasi yang valid, dan menyajikannya
dalam bentuk infografik dengan data numerik yang relevan.
Penguatan literasi dan numerasi dalam pembelajaran dan asesmen
bukanlah sekadar kebijakan, melainkan kebutuhan mendasar untuk mencetak
generasi pembelajar yang siap menghadapi dunia yang penuh tantangan. Dengan
strategi yang tepat, dukungan guru dan kolaborasi semua pihak, kita dapat
mewujudkan pendidikan yang benar-benar memberdayakan
Menyalakan
Perubahan: Program Pendampingan Sekolah Berbasis Data 2025
Oleh:
Viktor Rega
Bayangkan
Anda seorang pengawas sekolah yang bertanggung jawab membina 11 sekolah, mulai
dari SMP hingga TKK/PAUD, dengan tantangan beragam: literasi yang tersendat,
iklim keamanan yang goyah, hingga anggaran yang belum optimal. Tumpukan data
dari Rapor Pendidikan 2025 menanti untuk diolah, tapi waktu terbatas, dan
harapan besar dari stakeholders menekan. Bagaimana caranya menyusun program
pendampingan yang tidak hanya efektif, tetapi juga cepat dan tepat sasaran?
Artikel ini akan mengupas rahasia meramu program pendampingan berbasis data
yang bisa mengubah wajah sekolah Anda di tahun 2025!
Rapor
Pendidikan 2025: Peta Harta Karun Pendidikan
Rapor
Pendidikan 2025 bukan sekadar laporan tahunan; ia adalah peta harta karun yang
mengungkap kekuatan dan kelemahan sekolah. Dari 11 sekolah binaan di wilayah
Kabupaten Ngada,Provinsi Nusa Tenggara Timur yang terdiri dari 6 SMP dan 5 TKK/PAUD—data ini menyoroti isu krusial seperti rendahnya
skor numerasi (misalnya, SMPN 2 Riung Lindi turun drastis -32.07%), maraknya
hukuman fisik (SMPN Satap 3 Wolomeze mencatat 46.15%), hingga minimnya sarana
prasarana di TKK (skor 2 di banyak sekolah). Namun, di balik tantangan, ada
peluang emas: literasi SMPN 2 Riung Taenterong melonjak +25.45%, dan refleksi
guru di TKK Negeri St. Maria Tarawali mencapai skor 94.35.
Prioritaskan
kebutuhan “tinggi” seperti numerasi, iklim keamanan, dan sarana prasarana, lalu
tangani isu Kunci suksesnya? “sedang” seperti literasi dan partisipasi
warga sekolah. Dengan pendekatan ini, Anda bisa fokus pada masalah paling
mendesak tanpa kehilangan arah.
Langkah
1: Petakan Prioritas dengan Presisi
Menyusun
program pendampingan dimulai dari mengenali kebutuhan sekolah secara mendalam.
Bayangkan Anda sedang mendiagnosis pasien: tanpa pemeriksaan yang tepat,
pengobatan bisa salah sasaran. Rapor Pendidikan 2025 memberikan data akurat
untuk mendiagnosis “penyakit” sekolah. Misalnya:
SMPN
Satap 3 Wolomeze:
Numerasi (skor 57.03) dan iklim keamanan (hukuman fisik 46.15%) jadi
prioritas tinggi. Literasi (64.29%) masuk prioritas sedang.
TKK
Negeri St. Fransiskus Tarawaja:
Sarana prasarana (skor 2) dan iklim keamanan (68.46, turun -13.42) butuh
perhatian mendesak, sementara perencanaan pembelajaran bisa ditangani
bertahap.
Tabel
prioritas yang ringkas—dengan kolom nama sekolah, prioritas tinggi, prioritas
sedang, dan dasar data—adalah alat ajaib untuk memetakan kebutuhan. Dengan
tabel ini, Anda bisa melihat gambaran besar tanpa tersesat dalam lautan angka.
Langkah
2: Jenguk Jiwa Kepala Sekolah
Sekolah
adalah cerminan kepala sekolahnya. Tanpa komitmen dan kapasitas mereka, program
sehebat apa pun bisa mandek. Di sinilah pengawas berperan sebagai “pelatih”
yang memahami jiwa timnya. Berdasarkan wawancara, kepala sekolah dibagi ke
dalam dua kategori kesadaran refleksi: Berkembang (tahu masalah tapi
rencana masih kabur) dan Berdaya (reflektif dengan solusi konkret).
Contohnya,
kepala sekolah SMPN Satap 3 Wolomeze “Berdaya” karena mengakui rendahnya
numerasi dan merencanakan pelatihan guru, sesuai data rapor (numerasi 53.57%).
Sebaliknya, SMPN 2 Riung Lindi masih “Berkembang” karena hanya menyebut
penurunan literasi (-24.45%) tanpa solusi jelas. Kapasitas memimpin juga
bervariasi: SMPN 2 Soa “Sedang” dengan perencanaan numerasi yang solid
(84.44%), sementara TKK Negeri Lindi “Rendah” karena minim respons terhadap
skor sarana (2).
Tips
praktis?
Gunakan tiga pertanyaan pemantik:
Apa
kekuatan dan kelemahan sekolah Anda?
Bagaimana
Anda mengatasi kelemahan?
Apa
rencana untuk mempertahankan kekuatan?
Jawaban
mereka adalah cermin untuk merancang pendampingan yang pas.
Langkah
3: Rancang Pendampingan yang Hidup
Pendampingan
bukan sekadar kunjungan formal; ia adalah proses membangun perubahan nyata.
Program pendampingan 2025 dirancang spesifik untuk jenjang SMP (fokus literasi,
numerasi, karakter) dan TKK/PAUD (pembelajaran anak usia dini, iklim keamanan).
Berikut contohnya:
SMPN
Satap 3 Wolomeze:
Coaching untuk workshop numerasi bilangan (Jan-Mar) dan training disiplin
positif untuk kurangi hukuman fisik.
TKK
St. Fransiskus Tarawaja:
Facilitating koordinasi BOS untuk sanitasi dan training disiplin positif,
menangani skor sarana (2) yang kritis.
Durasi
pendampingan diatur strategis: prioritas tinggi ditangani intensif di kuartal
pertama (2 kali kunjungan), sementara prioritas sedang di kuartal berikutnya (1
kali). Total, setiap sekolah mendapat minimal tiga sesi pendampingan sepanjang
2025.
Langkah
4: Pilih Strategi dan Metode yang Tepat
Setiap
kepala sekolah punya “DNA” berbeda. Kombinasi kesadaran dan kapasitas mereka
menentukan strategi pendampingan. Misalnya:
Pemicu
Perubahan untuk SMPN
2 Riung Lindi (Berkembang-Rendah): Consulting untuk bangun perencanaan
berbasis data, diikuti training literasi dan numerasi.
Penguatan
Kapasitas untuk SMPN
2 Soa (Berdaya-Sedang): Coaching untuk optimalkan numerasi dan
facilitating forum keamanan.
Metode
pendampingan juga bervariasi: coaching untuk implementasi program, training
untuk keterampilan teknis, consulting untuk perencanaan awal, dan facilitating
untuk kolaborasi eksternal. Dengan pendekatan ini, pendampingan terasa hidup
dan relevan.
Langkah
5: Jadwalkan dengan Cerdas
Waktu
adalah emas. Jadwal pendampingan 2025 dirancang untuk memaksimalkan dampak:
Januari-Maret: Fokus prioritas tinggi seperti
numerasi (SMP) dan sarana (TKK). Contoh: Coaching numerasi di SMPN Satap 3
Wolomeze dan facilitating BOS di TKK St. Fransiskus.
April-Juni: Tangani prioritas sedang seperti
literasi dan partisipasi warga.
Juli-Desember: Evaluasi dan penguatan program.
Jadwal
ini memastikan setiap sekolah mendapat perhatian cukup tanpa membebani
pengawas.
Langkah
6: Ukur Keberhasilan dengan Jelas
Tanpa
indikator, pendampingan seperti berlayar tanpa kompas. Target terukur disusun
untuk setiap sekolah, misalnya:
TKK
Buana Pore: Skor
kemampuan fondasi naik 5%, partisipasi orang tua naik 5%.
Selain
itu, 50% kepala sekolah diharapkan naik ke kategori “Berdaya” dan “Tinggi”
dalam kesadaran dan kapasitas. Laporan bulanan (ringkasan kegiatan, temuan,
rekomendasi) dan tahunan (capaian indikator, saran 2026) jadi alat pantau yang
sederhana namun kuat.
Mengapa
Ini Penting?
Program
pendampingan berbasis Rapor Pendidikan 2025 bukan hanya soal memenuhi tugas
pengawas, tetapi tentang menciptakan perubahan nyata. Bayangkan siswa SMPN 2
Soa yang kini lebih mahir berhitung, atau anak-anak TKK St. Maria Tarawali yang
belajar di lingkungan aman dan menyenangkan. Dengan pendekatan yang
terstruktur—dari pemetaan prioritas hingga pengukuran keberhasilan—pengawas
bisa menjadi katalis perubahan tanpa kewalahan.
Mulai
Sekarang, Ubah Besok!
Menyusun
program pendampingan sekolah tidak harus rumit. Dengan Rapor Pendidikan 2025
sebagai panduan, pengawas bisa bekerja cepat dan efektif: petakan prioritas,
kenali kepala sekolah, rancang pendampingan yang hidup, dan ukur dampaknya. Di
Bajawa, 11 sekolah menanti transformasi—dari numerasi yang lebih kuat hingga
iklim sekolah yang lebih aman. Ambil langkah pertama hari ini, dan saksikan
perubahan besar di 2025!
Peraturan
Dirjen GTK No. 4831/2023 tentang Peran Pengawas Sekolah.
Rapor
Pendidikan 2025, Data Sekolah Binaan Bajawa
Bagi bpk/ibu yang ingin mendownload dokumen terkait program pendampingan pengawas sekolah (Contoh program pendampingan, Contoh format wawancara kepala sekolah, prompt penyusunan program pendampingan berdasarkan analisis rapor pendidikan 2025) silahkan unduh tautan berikut:
Dalam perencanaan pendidikan,Rencana Kerja Tahunan (RKT)danAnggaran Rencana Kerja dan Anggaran Sekolah (ARKAS)merupakan dua komponen penting untuk memastikan sekolah dapat menjalankan programnya secara efektif dan transparan. Berikut adalah panduan menyusun RKT dan ARKAS :
Input rencana kegiatan dan anggaran sesuai panduan yang ada.
Verifikasi dan Submit
Periksa kembali kelengkapan data sebelum mengajukan.
Pastikan dokumen pendukung seperti RKT dan RKAS sudah sesuai.
Penyusunan RKT dan ARKAS membutuhkan ketelitian dan koordinasi antara kepala sekolah, bendahara, dan komite. Dengan mengikuti panduan dalam video tersebut, sekolah dapat menyusun perencanaan yang sistematis dan akuntabel.
Di era pendidikan modern, penyusunan program kerja yang efektif menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. Salah satu pendekatan yang kini banyak digunakan adalah analisis rapor pendidikan, sebuah alat yang memberikan gambaran komprehensif tentang kondisi satuan pendidikan. Berikut adalah langkah-langkah mudah, cepat, dan sederhana untuk menyusun program kerja yang relevan dan berdampak di tahun 2025:
Mengapa Rapor Pendidikan Penting?
Rapor pendidikan bukan sekadar dokumen formal, tetapi cerminan data nyata yang mencakup berbagai aspek, seperti capaian literasi, numerasi, karakter, hingga iklim keamanan di sekolah. Dengan memanfaatkan data ini, pendidik dapat mengidentifikasi kekuatan, kelemahan, serta area yang perlu diperbaiki.
Langkah-Langkah Penyusunan Program Kerja
Berikut adalah panduan praktis untuk menyusun program kerja berbasis analisis rapor pendidikan:
Akses dan Pahami Data Rapor Pendidikan
Langkah pertama adalah mengunduh rapor pendidikan dari platform resmi yang disediakan oleh Kementerian Pendidikan, seperti Dashboard Rapor Pendidikan. Dalam video, dijelaskan bahwa data ini biasanya mencakup indikator-indikator kunci seperti hasil Asesmen Nasional (AN), tingkat kepuasan siswa, dan kualitas pembelajaran. Luangkan waktu untuk memahami setiap angka dan narasi yang disajikan.
Identifikasi Prioritas Masalah
Setelah memahami data, fokuskan pada area yang menunjukkan performa rendah atau memerlukan perhatian khusus. Misalnya, jika rapor menunjukkan rendahnya kemampuan numerasi siswa, jadikan ini sebagai prioritas. Video menyarankan untuk menggunakan metode sederhana seperti diagram tulang ikan (fishbone diagram) untuk menganalisis akar masalah secara cepat.
Tetapkan Tujuan yang Spesifik
Berdasarkan masalah yang diidentifikasi, buat tujuan yang jelas dan terukur. Contohnya, “Meningkatkan kemampuan numerasi siswa kelas 5 sebesar 20% dalam 6 bulan.” Penjelasan dalam video menegaskan bahwa tujuan yang spesifik akan memudahkan evaluasi keberhasilan program.
Rancang Kegiatan yang Sederhana namun Efektif
Program kerja tidak perlu rumit. Video memberikan contoh kegiatan seperti pelatihan guru untuk metode pengajaran numerasi yang interaktif atau sesi belajar tambahan dengan permainan edukasi. Pastikan kegiatan ini realistis, sesuai anggaran, dan dapat dijalankan dalam waktu singkat.
Tentukan Indikator Keberhasilan
Agar program dapat dievaluasi, tentukan indikator keberhasilan yang konkret. Misalnya, “80% siswa mampu menyelesaikan soal numerasi dasar pada tes bulanan.” Video menyarankan untuk menggunakan data awal dari rapor pendidikan sebagai baseline.
Susun Jadwal dan Alokasi Sumber Daya
Buat timeline pelaksanaan yang jelas, misalnya dalam rentang satu semester, dan alokasikan sumber daya yang ada, seperti tenaga guru atau fasilitas sekolah. Video menekankan pentingnya kolaborasi dengan tim untuk memastikan semua pihak terlibat.
Evaluasi dan Laporkan Hasil
Setelah program berjalan, bandingkan hasil dengan indikator keberhasilan yang telah ditetapkan. Video merekomendasikan untuk mendokumentasikan proses dan hasil dalam laporan singkat yang dapat diunggah kembali ke platform rapor pendidikan.
Tips Tambahan :
Gunakan Teknologi: Manfaatkan aplikasi seperti Excel atau Google Sheets untuk mengolah data dengan cepat atau tool AI misalnya Grok,Deepseek, ChatGPT atau tools AI lainnya
Libatkan Stakeholder: Diskusikan rancangan program dengan kepala sekolah, guru, dan bahkan orang tua untuk mendapatkan dukungan.
Fleksibel: Sesuaikan program dengan kondisi lokal sekolah agar lebih relevan.
Dalam kebijakan Merdeka Belajar, peran pengawas
sekolah telah mengalami perubahan signifikan. Kini, pengawas sudah
ditransformasi menjadi pendamping satuan pendidikan, sehingga menjadi mitra strategis bagi satuan pendidikan
dalam meningkatkan kualitas layanan yang berpusat pada peserta didik.
Transformasi ini didukung oleh regulasi, seperti Peraturan Direktur Jenderal Guru dan Tenaga
Kependidikan Nomor 4831/B/HK.03.01/2023 serta Peraturan Menteri Pendayagunaan
Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 21 Tahun 2024
Pada tahun 2025, program pendampingan oleh pengawas
sekolah dirancang berdasarkan refleksi kompetensi pengawas sekolah tahun sebelumya.
Pendekatan ini memberi fleksibilitas bagi pengawas dalam menentukan fokus
peningkatan indikator kompetensi sesuai kebutuhan sekolah binaan. Salah satu
contohnya adalah program peningkatan kompetensi profesional kepala sekolah,
khususnya dalam pengembangan diri untuk mendukung layanan pendidikan berbasis
peserta didik.
Program pendampingan bertujuan untuk memperkuat
kapasitas kepala sekolah dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi
program pendidikan, serta menciptakan dampak positif pada ekosistem
pembelajaran secara keseluruhan.
Pendekatan pendampingan berbasis data dan refleksi
Program ini diawali dengan pengumpulan dan analisis
data rapor pendidikan dari sekolah binaan untuk mengidentifikasi kekuatan dan
kelemahan setiap sekolah. Selanjutnya, pendekatan pendampingan disesuaikan
dengan tingkat kesiapan sekolah, meliputi:
1.Penyemai perubahan untuk sekolah yang baru
mulai beradaptasi.
2.Penguatan perubahan bagi sekolah dengan
kapasitas menengah.
3.Perubahan berkelanjutan untuk sekolah
dengan kapasitas tinggi dan kesadaran yang matang.
Strategi ini dirancang agar program pendampingan dapat
berjalan efektif sesuai kebutuhan masing-masing sekolah.
Tahapan pelaksanaan program
Pelaksanaan pendampingan dilakukan melalui beberapa tahap:
1.Perencanaan
Pengawas berdiskusi dengan kepala sekolah untuk memahami kebutuhan spesifik.
Berdasarkan prioritas dan indikator keberhasilan yang disepakati, rencana
pendampingan pun dirumuskan.
2.Implementasi
Dalam pelaksanaan, pengawas memberikan umpan balik dengan pendekatan:
a.Umpan
balik pembangkit untuk membantu kepala sekolah mengenali masalah dan mencari
solusi.
b.Umpan
balik penyemangat guna mengapresiasi kemajuan dan mendorong perubahan lebih
lanjut.
c.Umpan
balik pembentuk untuk memperkuat praktik baik yang telah diterapkan.
Kepala sekolah dilatih mengembangkan program yang berkelanjutan dan mendukung
layanan pendidikan berbasis peserta didik.
3.Evaluasi dan refleksi
Evaluasi triwulanan dilakukan untuk menilai capaian program. Kepala sekolah
diajak merefleksikan praktik yang telah diterapkan dan mengidentifikasi area
yang memerlukan perbaikan.
4.Dokumentasi dan publikasi
Laporan triwulanan dan dokumentasi video praktik baik disusun untuk diseminasi
melalui platform pendidikan seperti Merdeka Mengajar atau platform
lainya seperti jurnal.
Kerangka kompetensi yang fleksibel
Program ini memungkinkan guru, kepala sekolah, dan
pengawas memilih indikator kompetensi yang relevan. Guru dapat memilih
indikator dari aspek pedagogik, kepribadian, sosial, atau profesional,
sementara kepala sekolah dan pengawas fokus pada kompetensi kepribadian,
sosial, atau profesional. Pendekatan ini memastikan pengembangan diri yang
dirancang relevan dan berdampak pada peningkatan kualitas pendidikan.
Bagaimana dampakanya?
Pendekatan berbasis refleksi ini diharapkan:
Meningkatkan
kapasitas kepala sekolah dalam merancang dan melaksanakan program
pengembangan diri.
Meningkatkan
kualitas layanan pendidikan berpusat pada peserta didik, tercermin dari
skor rapor pendidikan.
Memperkuat
kolaborasi antara pengawas, kepala sekolah, dan guru dalam menciptakan
lingkungan belajar inklusif.
Dengan pendekatan ini, pengawas sekolah berperan tidak
hanya sebagai pendamping, tetapi juga agen perubahan yang berkontribusi nyata
dalam peningkatan mutu pendidikan di Indonesia. Komitmen bersama ini diharapkan
mampu mewujudkan visi pendidikan yang inklusif, inovatif, dan berorientasi pada
peserta didik
Pembelajaran
di abad ke-21 menghadirkan berbagai tantangan yang menuntut perubahan cara guru
mengajar dan siswa belajar. Salah satu pendekatan yang kian mendapat perhatian
adalah strategi pembelajaran Deep Learning. Pendekatan ini tidak hanya membantu
siswa menguasai konsep, tetapi juga meningkatkan kompetensi mereka secara
mendalam, sejalan dengan tuntutan perkembangan zaman. Deep Learning merupakan
salah satu fokus utama Kementerian Pendidikan dasar dan menengah
(Kemendikdasmen) yang diproyeksikan
untuk diterapkan secara luas pada 2025, khususnya dalam konteks pendidikan di
Indonesia .
Menghafal fakta sejarah tidak cukup. Dengan Deep Learning, siswa akan belajar bagaimana berpikir kritis dan mengaitkan konsep secara mendalam. Cari tahu strategi lengkapnya di bawah ini: Strategi Pembelajaran Deep Learning
Kabupaten Ngada, sebuah daerah di Nusa Tenggara Timur,
tengah menyaksikan transformasi besar dalam dunia pendidikan. Melalui sebuah
workshop yang intensif, para guru di Ngada telah diperkenalkan pada teknologi
kecerdasan buatan (AI) sebagai alat bantu yang revolusioner dalam merancang
pembelajaran yang efektif dan relevan.
Workshop Inovatif, Dampak Signifikan
Workshop yang diselenggarakan oleh komunitas Lingkar Daerah
Belajar (LDB) Region Ngada ini telah berhasil membuka mata para guru akan
potensi AI dalam dunia pendidikan. Dengan memanfaatkan ChatGPT, sebuah model
bahasa besar yang canggih, para peserta diajak untuk mendalami cara mengubah
Capaian Pembelajaran (CP) menjadi Tujuan Pembelajaran (TP), Alur Tujuan
Pembelajaran (ATP), Kriteria Ketuntasan Tujuan Pembelajaran (KKTP), hingga
menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) yang berdiferensiasi.
Dukungan Penuh Pemerintah Daerah
Acara pembukaan workshop semakin meriah dengan kehadiran
Sekretaris Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Ngada, Bapak Gregorius Keo
Molo, S.Pd. Dalam sambutannya, beliau menyampaikan apresiasi yang tinggi atas
inisiatif komunitas LDB dan menekankan pentingnya peningkatan kompetensi guru
dalam menghadapi era digital. "Salah satu arah kebijakan pendidikan di
Kabupaten Ngada adalah peningkatan kompetensi guru sebagai jawaban atas
pembelajaran abad 21, terutama pada kurikulum merdeka," tegas Bapak
Gregorius.
Suara Guru: Antusiasme dan Harapan Baru
Antusiasme peserta begitu terasa selama workshop
berlangsung. Ibu Fitria Pua Dawe, S.Pd. dari UPTD SDI Riung, mengungkapkan,
"Workshop ini sangat bermanfaat bagi saya. Saya merasa lebih terbantu
dalam menyusun RPP yang sesuai dengan Kurikulum Merdeka. ChatGPT benar-benar
menjadi alat yang sangat berguna bagi saya."
Senada dengan Ibu Fitria, Ibu Maria Ngina Ghiko, S.Pd. dari
SMPN 5 Golewa juga merasa terinspirasi. "Saya sangat kagum dengan
perkembangan teknologi AI. Saya yakin, dengan pemanfaatan AI, kualitas
pembelajaran di sekolah saya akan semakin meningkat," ujarnya.
AI sebagai Mitra Guru, Bukan Pengganti
AI bukanlah untuk menggantikan peran guru, melainkan untuk
menjadi mitra yang setia. Dengan AI, guru dapat lebih fokus pada hal-hal yang
bersifat manusiawi, seperti membangun hubungan yang baik dengan siswa,
memberikan motivasi, dan membimbing mereka dalam mengembangkan potensi diri.
Menuju Pendidikan yang Lebih Berkualitas
Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif para
peserta, panitia penyelenggara memberikan sertifikat kepada seluruh guru.
Sertifikat ini tidak hanya menjadi bukti bahwa mereka telah mengikuti
pelatihan, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus belajar dan mengembangkan
diri.
Workshop ini telah menjadi langkah awal yang baik dalam
mewujudkan pendidikan yang lebih berkualitas di Kabupaten Ngada. Dengan
pemanfaatan teknologi AI, diharapkan para guru dapat menciptakan pembelajaran
yang lebih inovatif, efektif, dan menyenangkan bagi siswa.
Dokpri
Keberhasilan workshop ini membuka peluang besar untuk
pengembangan lebih lanjut. Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain :
Pembentukan komunitas praktisis : Membentuk komunitas guru yang secara rutin berbagi pengalaman dan pengetahuan tentang pemanfaatan AI dalam pembelajaran.
Pengembangan platforma pembelajaran berbasis AI : Mengembangkan platform pembelajaran yang dapat diakses oleh seluruh siswa di Kabupaten Ngada.
Penelitian lebih lanjut : Melakukan penelitian untuk mengukur dampak jangka panjang dari pemanfaatan AI dalam meningkatkan hasil belajar siswa.
Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif para guru,
panitia penyelenggara memberikan sertifikat kepada seluruh peserta. Sertifikat
ini diharapkan dapat menjadi bukti bahwa para guru telah mengikuti kegiatan
peningkatan kompetensi dan siap menerapkan ilmu yang diperoleh dalam
pembelajaran sehari-hari dan mengimbaskan teori dan praktek selama kegiatan
workshop di komunitas belajar pada sekolah mereka masing-masing.
Workshop Optimalisasi Pembelajaran dan Asesmen melalui
Analisis CP Menjadi TP,ATP,KKTP hingga RPP Berdiferensiasi dengan Bantuan AI
telah menjadi tonggak sejarah dalam perjalanan pendidikan di Kabupaten Ngada.
Dengan semangat kolaborasi dan inovasi, kita yakin bahwa pendidikan di Ngada
akan semakin maju dan mampu menghasilkan generasi muda yang berkualitas.
Pada Tahap Pertama ini, pengawas sekolah selaku pendamping satuan pendidikan,
melakukan serangkaian kegiatan asesmen dan pengumpulan data melalui berbagai
cara, termasuk diskusi, observasi, dan refleksi bersama kepala sekolah yang
didampingi.Tujuanutamadaritahapiniadalahuntukmengidentifikasidenganjelas komitmen perubahan yang dimiliki
oleh kepala sekolah yang mendapat pendampingan. Selain itu, kegiatan ini dapat
dilakukan baik secara langsung atau secara virtual, sesuai dengan kondisi dan
ketersediaan di masing-masing sekolah. Selanjutnya, pengawas sekolah merumuskan
strategi pendampingan yang sesuai dan metode pendampingan yang tepat, serta
menetapkan prioritas dalam pendampingansatuanpendidikan.Hasildaritahapperencanaaniniakandirangkum
dalamsebuahdokumenrencanapendampingansatuanpendidikan,yangselanjutnya
akan diajukan kepada Dinas Pendidikan terkait. Dokumen ini dapat dianggap
sebagai analogi untuk program pengawasan yang mencakup tugas dan peran pengawas
sekolah sebelumnya. Kegiatan perencanaan ini dilaksanakan pada Periode Januari sampai dengan Maret.
Kegiatan utama perencanaan pendampingan kepada sekolah
dilakukan dengan langkah-langkah utama sebagai berikut:
A.PemetaanKomitmenPerubahanPada tahap ini, pengawas menggali sejauh mana komitmen
perubahan masing- masing kepala sekolah binaan yang didampingi. Kegiatan ini
dilakukan melalui diskusi, wawancara dan hasil rekaman dtuangkan dalam bentuk
instrument pengolahandata sesuaihasilyang
diperolehdalam kegiatantersebut pada masing- masing kepala
satuan pendidikan dampingan. Hal ini bertujuan untuk memetakan Komitmen
Perubahan tersebut sehingga teridentifikasi kapasitas memimpin perubahandantingkat kesadaranperubahanuntukmelakukanrefleksipadasetiap
kepala sekolah binaan yang didampingi.
Untuk file utuhnya, silahkan unduh pada link berikut. Sebelum mengunduh, silahkan tinggalkan jejak digital pada kolom komentar (sebagai anonim atau akun pribadi) di bagian bawah dari tulisan ini. Caranya: Klik pada "Posting Komentar".