Sabtu, 18 November 2023

MENGAPA ?

 

Mengapa, seruan hati yang melilit pilu,

Di bumi ini, peperangan yang berlarut-larut.

Bertanya-tanya di antara debu dan puing,

Mengapa harus terjadi, serpihan ketidakadilan?

 

Pertempuran di atas bumi, tanah yang dicinta,

Wajah anak-anak yang bersimbah rasa takut.

Suara tangis meresap di langit,

Seakan-akan surga menangisi tragedi ini?

 

Mengapa, bumi ini dicerai oleh kebencian,

Seakan-akan air mata tak berhenti?

Di balik tembok dinding yang terbentang,

Perdamaian begitu sulit diwujudkan?

 

Langit, menjadi saksi bisu pergolakan,

Di antara asap dan deru meriam yang bergema.

Mengapa, tanya hati yang mencari jawaban,

Apakah perdamaian hanya mimpi yang terabaikan?


Anak-anak di daerah perang, mungkinkah mereka akan melihat,

Hari esok tanpa kecemasan dan ketakutan?

Mengapa, sungguh mengapa, menjadi seruan yang hancur,

Dalam detik-detik yang terpikul oleh bumi ini.

 

Mengapa, pertanyaan yang merangkak di benak,

Mencari jawaban di antara keheningan dunia.

Mereka yang sedang bergejolak, kami berdoa untukmu, untuk kedamaian,

Mengapa harus terjadi, masih menjadi tanya yang tak terjawab.

DIA YANG TELAH TIADA

 


 

Di sini kutulis sebuah sajak untukmu,

Yang telah meninggalkan dunia ini.

Di alam baka, semoga damai menemuimu,

Rindu di hati, seperti bintang yang tak pernah pudar.

 

Pernah kau bersinar di tengah kehidupan,

Seperti matahari yang menerangi hariku.

Namun, kini kau redup, seolah senja datang,

Meninggalkan bayang-bayang yang merayap perlahan.

 

Kenangan tentangmu, bagaikan melodi indah,

Bermain di setiap sudut pikiranku.

Wajahmu tercermin dalam sinar rembulan,

Memancarkan cahaya dalam kegelapan malam.

 

Hari-hari terasa sepi tanpamu,

Seperti hujan yang meninggalkan langit.

Namun, di dalam hati, kau tetap hidup,

Sebagai kenangan yang abadi dan suci.

 

Oh, dia yang telah tiada,

Semoga engkau tenang di sana.

Doa dan rindu mengiringi langkahmu,

Di sini, kita merindukanmu, hingga waktu tak berhenti

IBU,MAAFKAN DAKU

 

Ibu, maafkan daku, hamba yang tak sempurna,

Dalam jejak langkah hidup, terselip kesalahan,

Seperti air yang mengalir di sungai tak berhenti,

Maafkan daku yang kadang tersesat dalam arah.

 

Hati ibu bagaikan pelabuhan yang tenang,

Menerima anaknya, meski terhempas ombak kehidupan,

Dalam setiap gelombang, mohon ampun Ibu,

Maafkan daku yang pernah menyakitimu.

 

Dalam senyummu, ada keajaiban yang tak terkira,

Sejuk seperti embun pagi yang merangkul bunga,

Namun tak jarang kugelapkan sinarmu,

Maafkan daku yang tak selalu bisa bersinar.

 

Ibu, maafkan daku yang tak sempurna,

Dalam khilaf dan kekhilafan, kutemui kehinaan,

Namun dalam tulusnya maafmu, aku temui cahaya,

Sebagai anak, hamba memohon ampunmu.

 

Ibu, maafkan daku, sekecil apapun salahku,

Dalam butir air mata yang tersedu,

Maafkan daku, Ibu tercinta,

Kuharap cinta ini takkan pernah pudar.

Mengapa Pendidikan Inklusif Penting? Ini Peran Guru, Orang Tua, dan Sekolah

Ilustrasi Pendidikan Inklusif (Sumber :Dokpri) , Pendidikan adalah hak dasar setiap anak, tanpa memandang latar belakang, kemampuan, atau ko...